Modal Awal Calon Atlet Olimpiade
Untuk menjadi seorang atlet
olimpiade bukan perkara mudah. Semua itu tergantung dari beberapa hal yang
penulis akan jelaskan pada artikel kali ini. Apabila anda ingin menjadi seorang
atlet olimpiade, maka semua langkah untuk menuju kesana harus dilakukan dengan
cara yang benar dan terukur serta memakan waktu yang sangat panjang sehingga
memerlukan kesabaran, keuletan, dan tekad yang besar untuk menuju kesana.
Berikut penulis sampaikan modal awal yang diperlukan untuk menjadi atlet olimpiade:
1. Mimpi.
Setiap
orang pasti memiliki mimpi masing – masing dalam hidupnya, tidak terkecuali
seorang atlet. Hampir semua atlet memiliki impian yang sama, yakni bisa tampil
di ajang kejuaran dunia seperti olimpiade. Mimpi dapat menjadikan semangat bagi
setiap atlet maupun manusia lain untunk mencapai target hidup. Namun sayang,
banyak atlet di Indonesia tidak memiliki mimpi seperti itu. Ini terlihat dari
cara latihan atlet - atlet di beberapa daerah yang penulis rasa seperti ‘datang
untuk main’ saja. Penuh dengan canda tawa dalam proses latian yang apabila ini
diteruskan bisa dapat menyebabkan kerugian baik di pihak atlet, pelatih, maupun
pengurus olahraga bahkan negara sekalipun.
2.
Niat
Secara harfiah, Mimpi adalah
pengalaman bawah sadar yang
melibatkan penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan, atau indera lainnya
dalam tidur, di dalam “Tidur”! Jadi menurut penulis, Mimpi itu hanya sebuah
angan-angan saja sementara “Niat” yang dimaksud merupakan mimpi yang dibuktikan
dengan aksi, ingat, “Dibuktikan dengan Aksi”! Aksi yang seperti apa? Aksi yang
direncanakan secara terstruktur dan terorganisir rapi untuk mencapai apa yang
telah dimimpikan. Aksi yang dilakukan mesti “lurus menuju target”, meskipun
tidak selalu lurus namun biar bagaimanapun juga harus diusahakan agar tetap
pada target’s track tersebut.
3.
Sabar
Banyak sekali atlet yang
tidak sabar melalui proses – proses yang ada. Bisa dilihat dari tingkat kasus
penggunaan doping di berbagai negara. Untuk menjadi seorang atlet dunia, paling
tidak sudah harus melakukan latihan-latihan dari umur 10 tahun. Kita ambil
contoh, karena kebetulan penulis merupakan atlet tolak peluru, jadi penulis
mengambil contoh atlet tolak peluru dunia, seperti Jacko Gill dari Selandia
Baru. Jacko Gill kelahiran tahun 1994 telah menekuni olahraga tolak peluru
semenjak dia masih berumur sekitar 10 tahun (penulis kurang tahu pastinya,
namun penulis melihat videonya saat masih berumur 10 tahun melakukan tolak
peluru). Dia merupakan pemegang rekor dunia tolak peluru remaja dengan jarak 24,35
meter untuk peluru seberat 5kg (kelas remaja). Dia melakukan itu pada saat umur
17 tahun, yakni sekitar 7 tahun setelah dia memulai olahraga ini. Bayangkan! 7
tahun lamanya dia melakukan latihan yang sama berulang-ulang dan tetap latihan,
terlebih olahraga atletik bukan olahraga permainan yang terkadang program latihan
dapat membuat seorang atletnya bosan.
4.
Mental Baja
Dalam prosesnya, setiap
atlet harus melalui proses latihan yang dapat membuat mereka, seperti, muntah-muntah,
badan terasa kaku, pegal-pegal, kelelahan yang luar biasa, namun itu semua
hanya ujian. Ujian dari kekuatan anda dan seberapa mampu anda menaklukan hal –
hal tersebut, karena musuh terbesar anda adalah anda sendiri! Jangan takut akan
lawan – lawan anda saat di lapangan atau dimanapun, karena, mengutip kata dari
pesepak bola Indonesia yakni Evan Dimas, bahwa “Hanya ALLAH dan orang tua yang
tidak dapat dikalahkan” itu memang benar. Jika dianalogikan, sebuah tim basket
yang sedang mengalami kekalahan sementara pada kuarter ketiga, padahal mereka
harus menang untuk dapat juara kompetisi, mau tidak mau, lelah atau tidak,
menang wajib hukumnya bagi mereka. Kalau tidak punya mental baja, tim tersebut
akan merasa sudah kalah pada kuarter keempat. Sebaliknya jika mereka punya
mental baja, kuarter keempat adalah kesempatan terakhir untuk habis – habisan agar
bisa juara. Mengutip kata pelatih penulis, “Kalau perlu mati dilapangan, mati!”
5. Lingkungan yang mendukung
Lingkungan ini terbagi
menjadi beberapa jenis:
a.
Lingkungan keluarga
Faktor lingkungan ini yang
paling sangat pengaruh dalam perkembangan psikologis seorang atlet. Apabila faktor
ini mendukung, maka psikologis sang atlet akan berjalan baik, dampaknya dapat
terlihat dari prestasi sang atlet.
b.
Lingkungan sekolah
Faktor yang satu ini saya
rasa agak sedikit menggangu berlangsungnya proses latihan. Mulai dari jam
sekolah yang padat, teman yang sering mengajak bermain, hingga tugas-tugas yang
tidak bisa dilewatkan. Diperlukan manajemen waktu yang baik dan ekstra ketat
agar faktor ini tidak dapat mengganggu proses latihan sehingga prestasi yang
diraih tidak hanya dalam bidang olahraga saja, melainkan akademik pun juga bisa
berprestasi. Menurut pengalaman penulis, apabila ingin mendapat prestasi di
olahraga maupun akademik, maka tinggalkanlah aktivitas diluar kedua hal
tersebut, seperti nongkrong bersama teman, kerja kelompok hingga larut malam,
berorganisasi yang tidak ada kaitannya dengan olahraga yang ditekuni, dan lain –
lain. Ingat! Anda harus tetap pada jalur lurus menuju target anda.
c. Lingkungan tempat latihan
Lingkungan yang dimaksud ini
menuju kepada teman sesama atlet, apakah selama berlatih bersama satu sama lain
saling mendukung proses perkembangan anda? Jika tidak maka sering anda merasa
tidak nyaman. Pelatih, apakah pelatih mendukung anda dalam setiap sesi latihan?
Jika tidak, maka apa gunanya pelatih. Fasilitas latihan, biar bagaimanapun juga
fasilitas yang mendukung juga akan berpengaruh terhadap perkembangan atlet. Serta
manajemen induk organisasi olahraga, apakah dana operasional, uang saku, cepat
turun atau tidak? Tidak semua atlet merupakan orang mampu, banyak juga atlet
yang menjadi tulang punggung keluarga, biasanya atlet senior, yang memang
pemasukan bulanan berasal dari olahraga. Apabila dana tidak kunjung cair atau
tidak ada kepastian hidup kedepan dari induk organisasi, anda sebagai atlet
akan merasa sia – sia. Selain itu, dana juga digunakan untuk membeli vitamin
dan suplemen (yang tidak tergolong doping) untuk perkembangan latihan atlet.
Itulah 5 hal yang diperlukan dan menjadi modal awal bagi anda yang ingin
menjadi seorang atlet olimpiade. Buktikan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa
yang besar dan sangat diperhitungkan di dunia. Cita-cita penulis menjadi
seorang atlet olimpiade sampai sekarang masih belum pupus. Meskipun usia saya
sudah 21 tahun, namun saya masih punya waktu hingga umur 35 tahun untuk terus
berlatih menjadi juara olimpiade.
Terima kasih sudah membaca artikel pertama saya ini. Untuk artikel
selanjutnya masih seputar menjadi atlet olimpiade, jadi ditunggu saja
Komentar
Posting Komentar